Oleh: Juaini Adami
Posperanews.com | Lampung Utara – Dalam dinamika kehidupan sosial, jabatan kerap kali disalahartikan sebagai simbol keagungan pribadi. Padahal, sejatinya jabatan hanyalah amanah, bukan mahkota yang layak untuk disombongkan. Ia bukan tanda kehebatan mutlak, melainkan ujian tentang sejauh mana seseorang mampu menjaga sikap, hati, dan tanggung jawab di tengah kekuasaan yang dipercayakan kepadanya.
Hari ini seseorang bisa berada di puncak. Dihormati, dipatuhi, dan dijadikan rujukan dalam setiap keputusan. Namun esok hari, posisi itu bisa berpindah tangan. Kekuasaan dapat dicabut, jabatan bisa digantikan, dan pengaruh perlahan menghilang. Sebab setiap jiwa memiliki gilirannya sendiri, dan tidak ada satu pun manusia yang mampu menghentikan putaran waktu.
Kesombongan sering kali lahir bukan karena kekuatan, melainkan karena lupa diri. Ketika berada di atas, sebagian orang mulai memandang rendah sesamanya, meremehkan suara-suara kecil, dan menutup mata terhadap jerih payah mereka yang berada di bawah. Padahal, ketinggian sejati bukanlah tentang posisi, melainkan tentang kerendahan hati.
Ketinggian hanyalah titipan sang waktu. Ia datang tanpa diminta dan pergi tanpa permisi. Maka, yang benar-benar tinggi adalah mereka yang tetap menundukkan hati meski derajatnya ditinggikan. Mereka yang tidak berubah sikap saat kekuasaan berada dalam genggaman. Mereka yang tetap menghormati, mendengar, dan melayani tanpa memandang status.
Jangan pernah memandang rendah dan meremehkan orang lain. Dalam kehidupan, tidak semua kekuatan tampil dengan suara keras dan sorotan terang. Hari ini mungkin seseorang tampak sederhana, rapuh, bahkan tidak dianggap dan tidak memiliki pengaruh apa pun. Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri. Roda kehidupan terus berputar, mengangkat yang sabar dan merendahkan yang angkuh.
Sejarah dan realitas sosial telah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak tokoh besar lahir dari ketidakdianggapannya. Mereka tumbuh dalam diam, ditempa oleh kesabaran, dan dibesarkan oleh kerendahan hati. Sementara itu, tidak sedikit pula yang jatuh dari ketinggian karena merasa terlalu tinggi untuk dikoreksi.
Oleh karena itu, jabatan seharusnya menjadi sarana pengabdian, bukan alat pembenaran diri. Kekuasaan seharusnya menjadi jalan untuk melayani, bukan menindas. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa tinggi seseorang pernah berdiri, melainkan seberapa dalam ia memahami arti kemanusiaan.
Ketika jabatan telah ditanggalkan dan kekuasaan telah berlalu, yang tersisa hanyalah sikap, perilaku, serta jejak moral yang pernah ditinggalkan. Di situlah nilai seseorang diuji. Bukan oleh pujian, melainkan oleh kejujuran sejarah.
Maka, marilah kita kembali mengingat: jangan sombong ketika berada di atas. Sebab hari ini engkau ditinggikan, esok engkau bisa diturunkan. Dan jangan pernah meremehkan siapa pun, karena roda kehidupan dapat meninggikan yang hari ini diremehkan—dan menjatuhkan mereka yang merasa paling tinggi.(JN/Tim)

